Aku tidak tahu kemalangan jenis apa yang menimpa kamu, tapi aku ingin percaya ada insiden yang cukup dahsyat di dunia serba selular ini hingga kamu tidak bisa menghubungiku. Mungkinkah matahari lupa ingatan, lalu keasyikan terbenam atau terlambat terbit? Bahkan kiamat pun hanya berbicara soal arah yang terbalik, bukan soal perubahan jadwal.
Ribuan detik kuhabisi, jalanan lengang kutentang
Oh, gelapnya, tiada yang buka, adakah dunia mengerti?
Miliaran panah jarak kita, tak jua tumbuh sayapku
Satu-satunya cara yang ada, gelombang tuk ku bicara
Tahanlah, wahai Waktu, ada “Selamat ulang tahun”
Yang harus tiba tepat waktunya, untuk dia yang terjaga menantiku
Tengah malamnya lewat sudah, tiada kejutan tersisa
Aku terlunta tanpa sarana, saluran tuk ku bicara
Jangan berjalan waktu, ada “Selamat ulang tahun”
Yang harus tiba tepat waktunya, semoga dia masih ada menantiku
Mundurlah wahai Waktu, ada “Selamat ulang tahun”
Yang tertahan tuk kuucapkan, yang harusnya tiba tepat waktunya
Dan rasa cinta yang s’lalu membara
Untuk dia yang terjaga
Menantiku…
-Rectoverso, Dewi ‘Dee’ Lestari-






